Kamis, 28 Maret 2013

0 UP FISIKA


Be Young Be Smart...!!!


 LAPAORAN LENGKAP PRAKTIKUM FISIKA
PENGUKURAN DIAMETER







NAMA : MUHAMMAD JAILANI

KELAS : XII IPA1







SMAN 1 MURUNG
DINAS PENDIDIKAN
2012/2013



I.             Judul Percobaan               : ”Pengukuran Diameter”
II.            Tujuan Percobaan            : Untuk mengetahui cara mengukur dengan menggunakan
   jangka sorong.
III.          Alat dan Bahan                  :       1. Jangka sorong                                              1 buah
                                                                        2. Batang kaki statif                                        1 buah
                                                                        3. Dasar kaki statif                                           1 buah
IV.          Dasar teori                         :

Jangka sorong merupakan alat ukur yang mempunyai ketelitian yang cukup tinggi di bandingkan dengan mistar.jangka sorong memiliki ketelitian 0,1 mm atau 0,01 cm. Pada perkembangan selanjutnya, ada jangka sorong yang memiliki ketelitian sampai dengan 0,05 mm. Kegunaan jangka sorong adalah untuk mengukur benda dengan panjang maksimum 10 cm. Jangka sorong digunakan untuk mengukur ketebalan benda-benda yang tipis, seperti mengukur diameter dalam ataupun luar gelas kimia. Jangka sorong terdiri dari beberapa bagian penting yaitu, rahang tetap, rahang geser, skala utama dan skala nonius.

  v  Cara menggunakan jangka sorong

            Misalkan kita mengukur diameter luar sebuah gelas kimia, setelah gelas kimia kita jepit, maka kita kunci dengan memutar sekrup pengunci. Kemudian kita baca skala pada rahang tetap, yaitu garis skala di depan garis skala nonius yang tetap berimpit dengan garis skala rahang tetap.

  v  Cara membaca skala pada jangka sorong
  1. Skala yang dibaca adalah skala tetap dan skala noniusnya.
  2. Hasil bacaannya sama dengan bacaan skala tetap + skala noniusnya
  3.  Skala rahang tetap yang dibaca adalah skala yang tetap berada pada garis paling depan dari skala nonius.
  4. Skala nonius yang dibaca adalah skala nonius yang berimpit dengan skala rahang tetap.
               
V.           Prosedur kerja                 :        1. Ukur diameter batang kaki statif
                                                                        2. Ukur diameter lubang kaki statif
                                                                        3. Ukur kedalaman lubang kaki statif
                                                                       4. Lakukan pengukuran masing-masing sebanyak tiga kali pengkuran
                                                                       5. Masukkan semua data kedalam table yang tersedia.






VI.         Data Hasil Pengukuran   :
No
Diamaeter batang
Diamaeter lubang
kedalaman batang
kaki statif
kaki statif
kaki statif
1
1,01 cm
0,96 cm
3,04 cm
2
1,01 cm
0,96 cm
3,04 cm
3
1,01 cm
0,96 cm
3,04 cm
Rata
1,01 cm
0,96 cm
 3,04 cm
rata

VII.         Analisis Data
1.       Diameter batang kaki statif
·         Percobaan pertama :
SU + SN (0,01)
1 + 1 (0,01) = 1,01 cm

·         Percobaan dua :
SU + SN (0,01)
1 + 1 (0,01) = 1,01 cm

·         Percobaan tiga :
SU + SN (0,01)
1 + 1 (0,01) = 1,01 cm

·         Rata – Rata :
1,01 + 1,01 + 1,01 : 3 = 1,01 cm

2.       Diameter lubang kaki statif
·         Percobaan pertama :
SU + SN (0,01)
0,9 + 6 (0,1) = 1,96 cm

·         Percobaan dua :
SU + SN (0,01)
0,9 + 6 (0,1) = 1,96 cm

·         Percobaan tiga :
SU + SN (0,01)
0,9 + 6 (0,1) = 1,96 cm

·         Rata – Rata :
1,96 + 1,96 + 1,96 : 3 = 1,96 cm




3.       Kedalaman lubang kaki statif
·         Percobaan pertama :
SU + SN (0,01)
3 + 4 (0,01) = 3,04 cm

·         Percobaan dua :
SU + SN (0,01)
3 + 4 (0,01) = 3,04 cm

·         Percobaan tiga :
SU + SN (0,01)
3 + 4 (0,01) = 3,04 cm

·         Rata – Rata :
3,04 + 3,04 + 3,04 : 3 = 3,04

v  Ketidakpastian Mutlak dan Relatif

     Telah anda ketahui bahwa baik pengukuran tunggal maupun pengukuran berulang, hasilnya dilaporkan sebagai x = x0 ± ∆x dengan ∆x berupa ½ skala terkecil instrument (pengukuran tunggal) atau berupa simpangan baku nilai rata-rata sampel (pengukuran berulang). ∆x dinamai ketidakpastian mutlak. Tentu saja, satuan ∆x sama dengan satuan besaran x.
     Ketidakpastian mutlak berhubungan dengan ketepatan pengukuran : makin kecil ketidakpastian mutlak, makin tepat pengukuran tersebut. Misalnya, pengukuran panjang L = (4.900 ± 0,005) cm adalah pengukuran yang memiliki ketepatan lebih tinggi daripada L = (4,90 ± 0,05) cm. Demikian juga pengukuran arus I = (3,6 ± 0,1) A memiliki ketepatan lebih tinggi daripada I = (3,6 ± 0,2) A.
     Cara lain untuk menyatakan ketidakpastian suatu besaran ialah menggunakan ketidakpastian relative, yaitu ∆x/x yang tidak memiliki satuan. Ketidakpastian relative sering dinyatakan dalam persen dengan mengalihkan ∆x/x dengan 100%. Ketidakpastian relative berhubungan dengan ketelitian pengukuran : makin kecil ketidakpastian relative, makin tinggi ketelitian pengukuran tersebut.


VIII. Kesimpulan dan Saran
·         kesimpulan
Jangka sorong digunakan  untuk mengukur panjang benda-benda tang tipis, misalnya mengukur diameter bagian luar atau bagian dalam sebuah gelas kimia. Dan jangka sorong memiliki ketelitian 0,01cm, dan pada saat perkembangan zaman selanjutnya ada jangka sorong yang memiliki ketelitian sampai dengan 0,05 mm.




·         Saran

Untuk meningkatkan kinerja siswa dalam melakukan penelitian, kami harap peralatan laboratotium dapat diperbanyak lagi.